9/11/2014

This is about Volunteerism Teaching Indonesian Children - 3 (VTIC 3)

Share it Please
            Program Pelayanan Pendidikan secara Sukarela untuk Anak-anak Indonesia atau dikenal dengan Volunteerism Teaching Indonesian Children Tahap 3 ini telah membuka mata para kami khusunya kaum pelajar di Indonesia bahwa diluar batas negeri ini masih banyak anak-anak Indonesia yang haus akan ilmu. Namun dikarenakan segala keterbatasan yang ada mereka tidak mendapatkan secara maksimal apa yang dibutuhkan anak-anak seusia mereka. Jika anak-anak Sekolah Dasar di Indonesia telah mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah setiap tahunnya, anak-anak dari para TKI di Miri dan Bintulu hanya bisa mengharapkan uluran tangan para donatur yang datangnya tak menentu.
            Ketika pertama kali mendapat informasi mengenai kegiatan ini saya pun merasa tertantang untuk mencoba dan mengikuti seleksi yang diikuti oleh kurang lebih 110 orang pelajar dari seluruh perguruan tinggi di pulau Jawa. Tak disangka saya pun berhasil melewatinya seleksi hingga tahap akhir hanya ada 25 calon pengajar terpilih. Kami para calon pengajar VTIC 3 ditugaskan untuk membuat bahan ajar untuk selama disana. Saya pun membuat bahan ajar sesuai dengan kurikulum yang berlaku di Indonesia. Tapi di akhir pelatihan bahan ajar yang saya buat, mendapat banyak revisi dikarenakan bahan ajar itu cukup sulit untuk murid-murid disana. Dari hal itu pun dapat saya ketahui bahwa kemampuan anak-anak TKI disana belum bisa mencapai kemampuan anak-anak Indonesia yang seusianya. Kenapa? Karena sebelum ada sekolah, walaupun sampai saat ini hanyalah sekolah non-formal, yang mereka ketahui hanyalah membantu orang tua di ladang sawit ataupun menjaga adik dirumah ketika orang tua mereka sedang bekerja. Hal itu benar-benar terjadi di Miri dan Bintulu dimana anak-anak usia mulai dari 6 tahun sudah memangkul biji sawit di bahunya.
            Tugas utama kami disini adalah menanam motivasi dalam diri anak-anak tersebut agar mereka terus belajar, walaupun masa depan mereka masih abu-abu. Tumbuh di ladang sawit yang hanya terdapat Sekolah Dasar (SD) Non-Formal sahaja, membuat tidak sedikit diantara mereka berhenti sekolah usai mengikuti Ujian Nasional Paket A. Mereka kembali ke ladang. Disini kami mengenalkan kepada mereka bahwa profesi di dunia ini ada banyak, tidak hanya tukang tombak, supir, dan pekerja kilang saja. Dan semua profesi tersebut bisa dicapai dengan belajar dan terus berusaha.
            Saya beserta dua mahasiswa Universitas Negeri Jakarta ditempatkan di CLC (Community Learning Centre) Derawan yang berada di sebuah ladang sawit milik perusahaan minyak sawit Sime Darby. Sebelum tiba di sekolah tersebut yang terpikirkan dalam benak saya adalah kami ditempatkan di sebuah sekolah yang mirip dengan sekolah yang ada di film Laskar Pelangi. Tapi faktanya sangat bertolak belakang. Bangunan sekolah itu bukanlah papan, melainkan tembok batu dan didalamnya sudah terdapat fasilitas yang cukup lengkap untuk sebuah sekolah non-formal. Tapi sayang, bangunan tersebut bukanlah milik mereka, murid-murid CLC Derawan hanya ‘menumpang’ di sebuah bangunan sekolah tadika milik orang tempatan (sebutan untuk orang-orang asli Malaysia). Sehingga murid-murid CLC Derawan mendapat jadwal sekolah siang di saat murid-murid tadika sudah pulang. Sekolah di siang hari bukanlah hal yang mudah, juga bukan hal yang mudah bagi kami untuk mengajar, apalagi di bawah tekanan suhu hampir 28°C. Tapi hal itu tak menyurutkan semangat murid-murid disana untuk belajar. Satu hal yang membuat mereka berbeda dengan anak-anak Indonesia lainnya adalah semangat belajar yang membara dalam diri mereka. Tatapan tulus mereka yang benar-benar menunjukkan mereka ingin belajar terkadang membuat saya malu mengingat terkadang saya selalu menganggap bahwa pendidikan di bangku sekolah hanyalah sekadar formalitas. Kepolosan mereka pun benar-benar terlihat, disaat sudah merasa sedikit bosan dengan polosnya salah satu dari murid-murid itu akan berkata, “Cikgu (sebutan untuk guru dalam bahasa Malaysia), kita main keluar yuk!”, ataupun mereka akan mengajak kami untuk belajar di bawah pohon yang rindang yang berada tepat di depan sekolah.        Kedatangan kami bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69. Tak ada rotan akar pun jadi. Walaupun tidak bisa mengibarkan Sang Merah Putih di udara, murid-murid tetap melangsungkan upacara di dalam ruang kelas. Bendera pun dengan gagahnya dibentangkan oleh tangan-tangan murid pasukan pengibar bendera. Hal ini adalah yang pertama bagi mereka. Ya, sebelumnya mereka tidak pernah melaksanakan upacara bendera, karena sekolah ini pun belum genap setahun berdiri.
            Program ini ditutup dengan kegiatan Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu) yang diadakan di sebuah sekolah yang berada di Saremas, milik perusahaan Wilmar House. Turut hadir pula konsulat-konsulat dari KBRI dan KJRI Kuching. Berbagai macam perlombaan pun diadakan mulai dari Minggu pagi hingga petang. Suasana ceria berubah menjadi haru disaat petang ketika kami para pengajar VTIC harus segera kembali ke tanah air. Semuanya, mulai dari kami, murid-murid, hinggu cikgu-cikgu tetap disana seperti tak mau berpisah tapi satu sama lain. Tapi kami harus melanjutkan tugas kami sebagai pelajar dan kembali ke Tanah Air.














            Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Tetap semangat adik-adikku....


Salam hangat,
Syahiedah Al-Haqq Q (Kak Sasa)


3 comments:

  1. halo Alsy! gaada comment box nya ya? hehe. yes i will write about Ramadan in Vancouver soon inshaAllah :) makasih udah ngingetin & makasih udah mampir juga

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum kak, mau nanya2 nih kak. Berapa lama ngajar disana kak? Ada kendala gitu gak kak dgn kondisi lingkungan disana ? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumsalam
      Saya bergabung dengan VTIC pada tahun 2014, pada saat itu kegiata di Sarawak berlangsung selama 2 minggu. Namun untuk tahun 2015 kegiatan dilaksanakan selama 3 minggu
      Kendala siiih, sebenarnya bisa dibilang ada tapi tidak menjadi hambatan. soalnya yang paling berat itu cuman karena cuaca. kebetulan kan saya dari bandung yang cuacanya adem2 gituu hehe. waktu ke Sarawak suhu disana diatas 28C, belum lagi kita tinggalnya di tengah2 ladang kelapa sawit kaan.. sama bahasa sih, mereka karena udh lama disana jadi kebanyakan ngobrolnya pake bahasa melayu. tapi so faaaarr ga sulit kok dan cukup mudah beradaptasi juga dengan lingkungan sosialnya :)

      Delete