Program Pelayanan
Pendidikan secara Sukarela untuk Anak-anak Indonesia atau dikenal dengan Volunteerism Teaching Indonesian Children Tahap 3 ini telah membuka mata para kami khusunya kaum pelajar di Indonesia
bahwa diluar batas negeri ini masih banyak anak-anak Indonesia yang haus akan
ilmu. Namun dikarenakan segala keterbatasan yang ada mereka tidak mendapatkan
secara maksimal apa yang dibutuhkan anak-anak seusia mereka. Jika anak-anak
Sekolah Dasar di Indonesia telah mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
dari pemerintah setiap tahunnya, anak-anak dari para TKI di Miri dan Bintulu
hanya bisa mengharapkan uluran tangan para donatur yang datangnya tak menentu.
Ketika
pertama kali mendapat informasi mengenai kegiatan ini saya pun merasa tertantang
untuk mencoba dan mengikuti seleksi yang diikuti oleh kurang lebih 110 orang pelajar dari seluruh perguruan tinggi di pulau Jawa. Tak disangka
saya pun berhasil melewatinya seleksi hingga tahap akhir hanya ada 25 calon
pengajar terpilih. Kami para calon pengajar VTIC 3 ditugaskan untuk membuat
bahan ajar untuk selama disana. Saya pun membuat bahan ajar sesuai dengan
kurikulum yang berlaku di Indonesia. Tapi di akhir pelatihan bahan ajar yang
saya buat, mendapat banyak revisi dikarenakan bahan ajar itu cukup sulit untuk
murid-murid disana. Dari hal itu pun dapat saya ketahui bahwa kemampuan
anak-anak TKI disana belum bisa mencapai kemampuan anak-anak Indonesia yang
seusianya. Kenapa? Karena sebelum ada sekolah, walaupun sampai saat ini
hanyalah sekolah non-formal, yang mereka ketahui hanyalah membantu orang tua di
ladang sawit ataupun menjaga adik dirumah ketika orang tua mereka sedang
bekerja. Hal itu benar-benar terjadi di Miri dan Bintulu dimana anak-anak usia
mulai dari 6 tahun sudah memangkul biji sawit di bahunya.
Tugas
utama kami disini adalah menanam motivasi dalam diri anak-anak tersebut agar
mereka terus belajar, walaupun masa depan mereka masih abu-abu. Tumbuh di
ladang sawit yang hanya terdapat Sekolah Dasar (SD) Non-Formal sahaja, membuat
tidak sedikit diantara mereka berhenti sekolah usai mengikuti Ujian Nasional
Paket A. Mereka kembali ke ladang. Disini kami mengenalkan kepada mereka bahwa
profesi di dunia ini ada banyak, tidak hanya tukang tombak, supir, dan pekerja
kilang saja. Dan semua profesi tersebut bisa dicapai dengan belajar dan terus
berusaha.
Saya
beserta dua mahasiswa Universitas Negeri Jakarta ditempatkan di CLC (Community
Learning Centre) Derawan yang berada di sebuah ladang sawit milik
perusahaan minyak sawit Sime Darby. Sebelum tiba di sekolah tersebut yang
terpikirkan dalam benak saya adalah kami ditempatkan di sebuah sekolah yang
mirip dengan sekolah yang ada di film Laskar Pelangi. Tapi faktanya sangat
bertolak belakang. Bangunan sekolah itu bukanlah papan, melainkan tembok batu
dan didalamnya sudah terdapat fasilitas yang cukup lengkap untuk sebuah sekolah
non-formal. Tapi sayang, bangunan tersebut bukanlah milik mereka, murid-murid CLC
Derawan hanya ‘menumpang’ di sebuah bangunan sekolah tadika milik orang
tempatan (sebutan untuk orang-orang asli Malaysia). Sehingga murid-murid CLC
Derawan mendapat jadwal sekolah siang di saat murid-murid tadika sudah pulang.
Sekolah di siang hari bukanlah hal yang mudah, juga bukan hal yang mudah bagi
kami untuk mengajar, apalagi di bawah tekanan suhu hampir 28°C. Tapi hal itu tak menyurutkan semangat
murid-murid disana untuk belajar. Satu hal yang membuat mereka berbeda dengan
anak-anak Indonesia lainnya adalah semangat belajar yang membara dalam diri
mereka. Tatapan tulus mereka yang benar-benar menunjukkan mereka ingin belajar
terkadang membuat saya malu mengingat terkadang saya selalu menganggap bahwa
pendidikan di bangku sekolah hanyalah sekadar formalitas. Kepolosan mereka pun
benar-benar terlihat, disaat sudah merasa sedikit bosan dengan polosnya salah
satu dari murid-murid itu akan berkata, “Cikgu (sebutan untuk guru dalam bahasa
Malaysia), kita main keluar yuk!”, ataupun mereka akan mengajak kami untuk
belajar di bawah pohon yang rindang yang berada tepat di depan sekolah. Kedatangan kami bertepatan dengan Hari
Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69. Tak ada rotan akar pun jadi. Walaupun
tidak bisa mengibarkan Sang Merah Putih di udara, murid-murid tetap
melangsungkan upacara di dalam ruang kelas. Bendera pun dengan gagahnya
dibentangkan oleh tangan-tangan murid pasukan pengibar bendera. Hal ini adalah
yang pertama bagi mereka. Ya, sebelumnya mereka tidak pernah melaksanakan
upacara bendera, karena sekolah ini pun belum genap setahun berdiri.
Program
ini ditutup dengan kegiatan Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu) yang diadakan di
sebuah sekolah yang berada di Saremas, milik perusahaan Wilmar House. Turut
hadir pula konsulat-konsulat dari KBRI dan KJRI Kuching. Berbagai macam
perlombaan pun diadakan mulai dari Minggu pagi hingga petang. Suasana ceria
berubah menjadi haru disaat petang ketika kami para pengajar VTIC harus segera
kembali ke tanah air. Semuanya, mulai dari kami, murid-murid, hinggu cikgu-cikgu
tetap disana seperti tak mau berpisah tapi satu sama lain. Tapi kami harus
melanjutkan tugas kami sebagai pelajar dan kembali ke Tanah Air.
Tidak
ada kata terlambat untuk belajar. Tetap semangat adik-adikku....
Salam hangat,
Syahiedah Al-Haqq Q (Kak Sasa)










